Mengapa Bulog Belum Gunakan Izin Impor Jagung 100 Ribu Ton ?



Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) belum merealisasikan impor jagung 100 ribu ton untuk kebutuhan pakan ternak, meski telah mengantongi izin dari Kementerian Perdagangan. Alasannya, Bulog masih menghitung kebutuhan jagung dan menyesuaikan dengan periode panen raya awal 2019.

Sebelumnya, hasil Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) pada awal November lalu menyepakati pembukaan keran impor jagung sebanyak 100 ribu ton. Perum Bulog pun telah mengantongi izin impor dari Kementerian Perdagangan.

Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso berdalih pihaknya tengah menghitung kebutuhan jagung bagi peternak. Sebab, periode Januari-Februari merupakan periode panen raya jagung. Untuk itu, Bulog menghindari kelebihan impor jagung yang mengancam serapan jagung petani lokal saat panen raya. 



"Kami sedang berhitung betul berapa sebenarnya kebutuhan yang riil sampai masa panen berikutnya, sehingga begitu kami impor tidak akan mengganggu produksi jagung yang akan dihasilkan oleh para petani jagung," ujarnya Selasa, (28/11).

Buwas, sapaannya akrabnya, memastikan Bulog bakal merealisasikan izin impor jagung sesuai hitungan tim internal Perum Bulog. Itu berarti, Perum Bulog berpeluang tidak merealisasikan izin impor 100 ribu ton sepenuhnya. Namun demikian, ia belum dapat menyebut batas waktu perhitungan tim internal Bulog untuk kebutuhan jagung pakan.

"Seandainya dari 100 ribu ton yang (kebutuhan) riil hanya 50 ribu ton ya kami ambil 50 ribu ton. Izin100 ribu ton tidak harus kami habiskan 100 ribu ton," tegasnya.



Sebelumnya, Bulog menargetkan jagung impor bakal masuk Indonesia paling lambat 20 Desember 2018.

Buka Peluang Impor Jagung dari Malaysia

Selain masih berkutat dengan jumlah impor jagung, Bulog juga memutuskan untuk mengkaji ulang negara importir jagung pakan. Buwas menuturkan pihaknya membuka peluang bagi negara tetangga seperti Malaysia untuk mengirim jagung pakan ke Indonesia, selama ketersediaan jagungnya memadai.

"Itu yang kami dahulukan, sehingga ada kecepatan waktu untuk kami memberikan kebutuhan jagung pada peternak," kata Buwas.



Di lain pihak, Perum Bulog telah melakukan proses lelang impor kepada eksportir jagung asal Argentina dan Brazil. Proses lelang itu ditutup pada 9 November 2018 lalu. Namun demikian, Perum Bulog masih menimbang dari sisi harga dan kecepatan proses pengiriman.

"Kalau ada harga yang murah, tetangga kita Malaysia ya kita ambil dari situ (Malaysia)," ujarnya.

Pemerintah akhirnya membuka keran impor jagung pakan setelah harga jagung pakan melonjak hingga Rp5.200 per kilogram. Harga tersebut jauh dari harga acuan Kementerian Perdagangan. Data Kemendag menyebut harga di tingkat konsumen untuk pembelian dan penjualan sekitar Rp4.000 per kg sesuai Permendag Nomor 27/M-DAG/PER/5/2017.

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20181128090016-92-349801/alasan-bulog-belum-gunakan-izin-impor-jagung-100-ribu-ton

Post a Comment

0 Comments